
Aku hanya berfikir soal bagaimana menjadi orang lain. Ketika sebuah pengalaman selalu saja menjadikan diriku mencoba menelusuri apa yang ada di benakku. Ketika tiba waktu untuk selalu akrab dengan lingkungan sekitar, maka saat itu juga menjadi orang lain dan Aku didalamnya. Seperti angin yang selalu mengikuti arah, selalu terbang mengikuti jejak. Naluriku selalu mengajak berjalan dimanapun aku singgah. Aku selalu bertanya tentang bagaimana hidup?Aku juga selalu menjadikan masa lalu itu menjadi refleksi, karena bagiku perubahan adalah sesuatu yang mesti ada dan harus dilalui dengan proses dimana aku selalu merasa berharga dengannya. Aku berfikir bahwa sesuatu yang paling berharga diduniaku adalah Menghormati hak-hak orang lain termasuk juga menghargai perempuan. Karena perempuan bagiku adalah sesuatu yang lembut, penuh kasih sayang, dan sumber inspirasi cintaku kepada kehidupan, dimana aku selalu merasa nyaman didekatnya. Karena kehendak Allah Swt dialah sang pencipta alam semesta sehingga Aku dapat berfikir bagaimana aku menjaga, melindungi, menghormati, mengerti terhadap perempuan. Perjalananku dekat dengan perempuan memberikan keindahan dan kedamaian sehingga aku selalu nyaman. Sempat terfikir dibenaku bahwa dekat dengan perempuan membuatku menangis, sedih, sekaligus merasa kehilangan. Bagiku perempuan adalah sesuatu yang berarti dalam hidup matiku. Aku Dan Perempuan
Kebijakan merupakan tindakan melawan eksploitasi, pengawalan, perlindungan, pendampingn menjadi kekuatan yang harus ada didalamnya. Perempuan adalah objek yang menjadi sasaran eksploitasi, hal tersebut merupakan kecenderungan yang nyata dirasakan kaum perempuan. Mereka adalah pelaku, eksploitasi yang memiliki kepentingan merugikan bagi hak-hak dasar manusia. Maka peran kemanusiaan adalah salah satunya menjadi alternatif bagi pelaksanaan keadilan untuk perempuan, yang selama ini ditindas hak-haknya dengan alasan mereka lemah.
Ekploitasi terhadap perempuan mengakibatkan rapuhnya masa depan mereka, secara psikologis mereka lemah, sering mengalami trauma yang berkepanjangan yang naas karena ulah yang tidak berprikemanusiaan. Mereka lemah, karena tipu muslihat yang dibuat oleh seseorang mereka menjadi hancur, yang ahirnya mencerburkan mereka didalam kekusutan yang terus melibasnya hingga tak ada lagi harapan.
STOP EKSPLOITASI.....!!!
Relasi perempuan dan laki-laki dari sejak lama terjalin, kehadirannya merupakan dua sisi yang berbeda, secara fisik dan naluri kemanusiaannya. Peran perempuan di wilayah publik sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar, dan kadang tidak diakui perannya (marjinal). Pola fikir seperti ini sebetulnya adalah menjustifikasi bahwa perempuan itu lemah, tidak berdaya, tidak ada potensi untuk membangun, padahal dalam beberapa hal perempuan telah melakukan perubahan secara kultural walaupun memang masih dianggap belum seberapa, akan tetapi keterlibatannya merupakan bukti bahwa perempuan tersebut kuat, mampu, penuh dengan ide, gagasan. Keterbukaan, dalam ruang publik terbukti dengan perannya mengambil bagian dari kebijakan, serta melakukan negosiasi dalam langkah-langkah pemerataan dan pemberdayaan dimasyarakat.
Laki-laki mesti menghargai perbedaan pola berfikir, menyampaikan pendapat, bagi perempuan, karena memang keterlibatannya merupakan langkah kongkrit dalam mewujudkan cita-cita kesetaraan tanpa melihat sisi lain yang melekat pada diri perempuan tersebut. Oleh karena itu, maka siapapun perempuan yang merupakan agen perubahan, dukungan, motivasi, support serta pendampingannya dalam masyarakat harus selalu menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesetaraan yang mutlak dimiliki perempuan berfikir bagi dunianya, dimasyarakat.
Sikap ramah terhadap perbedaan, baik jenis kelamin, pola fikir, dan peran merupakan penghormatan derajat manusia dihadapan manusia lainnya dimuka bumi, laki-laki dan perempuan adalah entitas yang berbeda, namun sama dihadapan manusia lainnya yang harus dijaga, dihormati agar ketidak adilan yang mengatasnamakan jenis kelamin antara laki-laki pada perempuan ini tidak menjadi suatu kerangka berfikir bahwa budaya yang masih saja menindas, melecehkan, melanggar hak kebebasan perempuan dimasyarakat, keberpihakan terhadap perempuan harus menjadi bagian penting untuk agenda kemanusiaan, dalam tataran dan dalam jangka panjang, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perubahan untuk menghormati keberadaan perempuan dimasyarakat.
Sedangkan realitas dimasyarakat 1 dari 11 perempuan, masih dianggap entitas marjinal, terpinggirkan oleh peran laki-laki, dalam berbagai hal relasi yang dibangun masih relatif jauh berbeda dengan laki-laki, walaupun memang partisipasi yang dijalankan merupakan kesejajaran, penghormatan, tetapi beberapa perempuan perannya masih dibawah.
Hal tersebut, disebabkan adanya pola budaya patriarkhal yang masih saja melekat, terbawa dalam ruang-ruang tertentu, maka peran serta keterlibatannya dalam merumuskan agenda kesetaraan tersebut masih relatif terbatas oleh peran laki-laki. Agenda kesetaraan yang merupakan hal mendasar bagi perempuan menjadi terhalang karena kebijakan masih ada dan dipegang sepenuhnya oleh laki-laki. Perlu ada penagasan secara terus-menerus bahwa perempuan tidak selalu lemah, tidak selalu dibawah, tidak selalu ditindas, derajat kemanusiaan dihadapan sistem, maupun pola fikir masyarakat yang selalu mengedepankan budaya patriarkhal tersebut, segera dirubah, dirumuskan sedemikian rupa agar peran yang dilalui perempuan sama dihadapan manusia lainnya.